Pindahan (part 12)
Saat ini, aku sedang memakan pisang untuk mencegah “ambayen”ku ini. Akupun mendapat ide, aku membuang ujung dari pisang, kemudian membuat gambar muka dengan pisau seperti orang berkumis, bermulut datar dan panjang, matanya tinggi dengan penuh harapan, seperti itulah perumpamaan wajah yang kugambar. mengingatkanku kepada nasihat ustadzah Ririn tadi pagi. “Tahu cucian mobil?...” tanyanya. Temanku jawab, “yang berada di dekat Gelora Olah Raga, ust?” jawab temanku. Aku jawab “ yang berada di dekat ‘cherry fruits market’ ya ust?” jawabku. “Yang bernama ‘aa carwash’ ,ust” tambahku. Ustadzah Ririn menambahkan “…tahu kan, kalau mobil sekotor apapun kalau masuk disana, keluarnya jadi bersih sekali…” tambahnya. “…Tapi, kalian beda. Begitu masuk kalian nakal, (tidak termasuk aku dan perempuan yang kalem) Di bulan terakhir tahun pelajaran ini, kalian semakin nakal. Difo di dorong sampai giginya ‘rongah’, Fino di tindas (dalam bentuk diminta stok persediaan hanzel secara gratis) , Difo dibully setiap hari, mainan terus dari jam tujuh pagi sampai jam tiga sore…” Tambah ustadzah Ririn lagi. Itu saja nasihat yang aku dengar, hafalkan, amalkan ,dan sebarkan. Sorenya, ustadzah Ririn memberi nasihat lagi. “…materi ini kamu harus dibelajari, nanti kalau Ujian Nasional kamu akan kesusahan” kata ustadzah Ririn. “…misalnya Difo udah ke amerika, kamu masih nyari padi, kasih makan kambing” tambahnya. Benar, kita tidak boleh tidak menuntut ilmu. Itu yang membuatku bangga, tapi rindu. Rindu sama nasihat-nasihat para astadtizah.
Label: and the story goes, blog, Brunei Darussalam, pindahan

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda