Sabtu, 15 April 2017

Pindahan… (Part 3)


Tadi saat aku di ruangan bimbingan konseling di sekolahku, ustadzah Wiwin tanya ke aku “…lah fo kan kamu katanya mau pindah ke Brunei? kalau misalnya kamu nggak jadi pindahan gimana? Malu tidak, sudah bilang ke semua ustadzah yang ada di sekolah ini?” . “hmm bener juga ya… Mari aku pikirkan terlebih dahulu” bilangku dalam hati. “Aku kan udah bilang kalau nyoba tok ustadzah” jawabku. Setelah lama berbincang-bincang dengan ustadzah wiwin, bel istirahat akhirnya berbunyi. Aku pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca buku, aku sudah bawa komik “al fatih” yang aku punya ke perpus. Aku taruh bukuku di meja khusus untuk membaca buku. Kemudian, temenku mau meminjam bukuku itu. Aku pun meminjamkanya, walaupun cuma di perpus saja bacanya. Dan aku mencari buku yang sama sekali belum pernah kubaca, karena hampir semua buku yang ada di perpustakaan sekolah sudah aku baca. “Kamus, novel, komik, buku anak, semua buku sudah kubaca. Dimana ya buku yang aku belum baca?” kataku. Akhirnya aku melihat rak bertuliskan “Bacaan Astatizah” hmm boleh juga nih. “Ada ‘who am I’, ‘psikologi anak’, ‘majalah anak-anak KIDS’, siapa sih yang naruhnya di sini? Harusnya kan di rak majalah” kata aku dalam hati. “Ah ini dia, ‘misteri Fir’aun : musuh para nabi”. Sekitar tiga ratusan halaman” kataku. Walaupun aku baca buku itu tapi sepertinya aku baru baca seberapa soalnya aku gak kuat baca buku “gede” . Walaupun sebenarnya aku kuat “melahap” novel kayak buku “ayah” karya om Andrea Hirata terus novel “negeri lima menara” karya om Fuadi. Sekitar tiga menit kemudian, bel pulang berbunyi. Aku pamit ke ustadzah Zahra karena aku mau pulang.  Pertama, aku ke kelas terlebih dulu untuk ambil tas. Kemudian, aku pamit ke ustadzah Ririn. Setelah itu aku ke gerbang sekolah. Tapi aku belum melihat becak yang biasa kunaiki kalau pulang. Ya sudah aku mau beli susu di warung almarhum eyangnya Fandi. Saat aku masuk aku lihat temen-temenku desak-desakan di dapur warung itu. Padahal, dapurnya itu  sebesar kamar mandiku. Satu kali satu meter diisi sekitar tiga puluh orang lebih. Bukan cuma kapasitasnya, untuk mendapatkan satu cup minuman yang kita mau, kita harus menunggu sekitar tiga puluh menit. Tiga puluh menit kemudian, aku ke sekolah lagi, tapi ternyata becak yang biasa jemput aku lagi sakit. Bukan cuma sakit, sakit-sakitan. Becak yang menggantikan malah belum tahu aku harusnya dijemput di selatan bukan di utara. Kemudian aku saat mengikuti pak becaknya ustadz Supri bilang ke aku “…fo nanti ngajinya jam berapa? Jam dua ya…”katanya. “jam satu saja kalau tidak mendingan dhuhur saja”jawabku. “ya wis jam satu” balas ustadz. Aku pun pulang, setelah itu aku nulis tulisan ini. sekitar lima menit kemudian Adzan berkumandang aku pun berwudhu dan berangkat ke mesjid yang jaraknya dengan rumahku hanya enam puluh centimeter saja. Sesudah sampai aku melihat poster yang jarang aku lihat di mesjid ini. “Masjid tujuh belas Purwokerto, Tabligh Akbar. Oo besok pengajianya” kataku. delapan menit kemudian, aku sudah sholat di mesjid jadi aku pulang ke rumah. Dirumah aku makan ayam goreng buatan mba Novi, bukan mba Novi tapi lebih tepatnya warung “Sambel Sobek” tempat mba Novi kerja. Enak sih tapi terlalu murah, lima belas ribu rupiah dapat dua. Setelah itu aku menulis lagi. Beberapa menit kemudian, Ustadz supri datang walaupun telat. Sesudah ngaji bersama ustadz supri, ibuku baru pulang.

Label: , , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda