PW
Fandi rumahnya itu dekat sekolah. Lebih
tepatnya, eyangnya fandi yang deket. Eyangnya Fandi punya warung yang selalu
ramai siswa. Paling meriah hari sabtu, Seperti yang aku bilang saat pindahan
(part 3). Saat hari sabtu, harus menunggu sekitar 30 menit untuk mendapatkan 1
cup. Kalau hari senin? Saat hari senin, palingan Cuma butuh 3 menit saja.
Karena, pengunjungnya sepi. Jajananya ada mie kremes, kentang Upin & Ipin,
richeesse, dan indomie goreng ada. Minumanya ada milo, milki go, hilo, pop ice,
teh sisri, dan banyak lagi. Dindingnya dari bambu dan lantainya dari batu. Warung
pring wulung (PW) juga punya katering, yang ikut katering PW dikelasku itu
Fandi, Labib (Dia ini keturunan bule loh), Hafidz, dan banyak lagi temanku yang
katering PW. Senin, aku ke rumahnya eyang Fandi Cuma sambil nunggu
jemputan sambil mesen milo anget. Dirumah eyangnya Fandi, fandi lagi ngobrol
sama H (yang di bully yang terrible) juga Labib, dan Naufal. Cuman, aku di
cuekin Labib.
Aku lihat di rumah eyangnya Fandi, ada dua gang (maksudku formasi bebatuan yang
ditaruh ditaman-taman) aku masuk ke yang kanan. Aku melihat ada kolam ikan dan
jalan buntu. Sedangkan yang kiri menuju ke keran dan pintu yang aku tidak tahu.
Dulu, aku pernah sampai masuk ke garasi rumah eyangnya. Disana, ada sepedanya
fandi saat masih kecil dan mobil yang aku lupa apa merek dan namanya. Didepan
PW ada sekolahan lagi, namanya TK insan mulia. Disebelah kiri PW ada
sekolahanku yang didepanya adalah masjid. Masjid tapi hanya untuk siswa, siswi,
ustadz, dan ustadzah.
Label: and the story goes, blog

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda